Seperti apa hub CCS di Indonesia

Poin penting:

  • Indonesia sedang mengevaluasi potensi besar untuk menjadi pusat penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).
  • Pusat ini dapat menyimpan sekitar 3 gigaton metrik CO2.
  • Indonesia bekerja sama dengan Singapura untuk mengembangkan potensi rantai nilai CCS di Asia Pasifik.

Navigasi ke:

Indonesia memanfaatkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), keterampilan masyarakat setempat, serta sejarah produksi energinya guna membantu mengurangi emisi di kawasan Asia Pasifik.

Awal tahun ini, pemerintah Indonesia membuat langkah maju dengan mengeluarkan peraturan presiden yang memungkinkan operator CCS menyisihkan sebagian dari kapasitas penyimpanannya untuk menyimpan CO2 dari wilayah tertentu. Selain itu, tahun ini, pemerintah Singapura dan Indonesia juga telah menandatangani surat pernyataan niat (LOI) untuk berkolaborasi dalam CCS lintas perbatasan. 

Kami berkolaborasi dengan BUMN Indonesia, Pertamina, untuk mempercepat proses evaluasi bersama atas pusat CCS potensial.

Proyek CCS potensial Indonesia terletak di bawah Laut Jawa dan dapat menampung sekitar 3 gigaton metrik CO2, yang dapat menjadikannya tempat penyimpanan terbesar di Asia Tenggara.

Indonesia membantu mendorong Asia Pasifik menuju masa depan yang lebih rendah karbon, dengan langkah-langkah menuju menjadi pusat penangkapan dan penyimpanan karbon domestik dan regional.

Berikut cara kami menangkap dan menyimpan CO2

Mari kita kupas CCS selengkapnya

Kedalaman

Tujuan CCS adalah menyimpan karbon yang tertangkap di lokasi yang dalam dan aman di mana ia dapat tetap berada secara permanen. Kedalaman mulai dari lebih dari 800 meter – setara dengan enam Monas yang ditumpuk di atas satu sama lain – hingga 1,2 kilometer di bawah tanah.

Kekedapan

Hasil tangkapan CO2 akan disimpan di antara bebatuan tebal. Ini ibarat penutup yang akan menyegel CO2 secara permanen. Proses ini sama seperti minyak dan gas yang tersimpan di bawah tanah selama jutaan tahun.

Tekanan

CO2 akan diberi tekanan 300-500 kali lipat sehingga dapat disimpan di area yang relatif kecil.

Waktu

Sama seperti berlian, bentuk CO2 yang terperangkap di bawah tanah dan diberi tekanan selama ratusan tahun pasti akan berubah. Setelah ratusan tahun, CO2 akan mengalami mineralisasi dan terkunci di bawah permukaan secara permanen. Setelah puluhan ribu tahun, CO2 akan berubah bentuk dari gas menjadi padat. Makin lama CO2 tersimpan di bawah tanah, makin aman pula kondisinya.

Lokasi

Lokasi memegang peranan krusial dalam CCS. Lokasi yang aman secara geologis akan meminimalkan risiko kebocoran pada penyimpanan CO2 permanen.

Integritas

Kami mengutamakan penyimpanan bawah tanah yang aman sekaligus memastikan penggunaan teknologi yang tepat untuk memantau lokasi tersebut pada berbagai tingkatan demi mengurangi risiko kebocoran.

ExxonMobil di Indonesia

jelajahi lebih lanjut