Menyingkap potensi CCS Asia Pasifik

Poin penting:
  • Penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) dapat mengurangi emisi CO2 pada industri yang sulit didekarbonisasi.
  • Lokasi Asia Pasifik sangat strategis untuk pengembangan industri CCS. 
  • Kolaborasi merupakan kunci untuk mengembangkan solusi pengurangan emisi lintas batas, seperti CCS.

Penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) adalah salah satu dari segelintir teknologi yang telah terbukti efektif mengurangi emisi CO2 secara signifikan pada industri yang sulit didekarbonisasi.

Apa itu CCS?  

CCS adalah teknologi yang akan menangkap dan memindahkan CO2 untuk digunakan kembali atau menyimpannya secara aman dan permanen di bawah tanah.

CCS dianggap sebagai hal krusial untuk mengurangi emisi CO2 dari industri yang sulit didekarbonisasi seperti baja, semen, bahan kimia, dan pembangkit listrik.

Sebagai pemimpin industri CCS, kami bekerja sama dengan pemerintah dan industri di seluruh wilayah Asia Pasifik untuk membantu menangkap CO2 dalam skala yang dapat membuat perbedaan. 

Di mana CO2 disimpan?

Karena sifat CO2 yang pasif dan stabil, dapat disimpan secara aman dan permanen di bawah tanah, jauh dari sumber air minum, baik di permukaan maupun di bawah laut. 

Mengapa Asia Pasifik? 

Ada sejumlah proyek CCS yang terus berkembang di seluruh dunia, termasuk di Asia Pasifik.

CCS berpotensi untuk memungkinkan pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu mengatasi risiko perubahan iklim. Saat ini, lebih dari setengah populasi global tinggal di wilayah Asia Pasifik, dan emisi CO2 yang dihasilkannya berkontribusi terhadap hampir separuh dari emisi dunia.

Ada juga kelas menengah yang berkembang pesat yang mendorong permintaan akan produk – mulai dari perumahan yang lebih baik hingga mobil dan barang elektronik. Jadi ini adalah tujuan dua arah: memungkinkan pertumbuhan ekonomi sambil mengurangi emisi. Kami menyebutnya persamaan “dan”.

Wilayah ini sangat siap untuk pengembangan industri CCS. Klik titik-titik pada peta untuk mempelajari lebih lanjut.

Apa yang kami lakukan?

Singapura

Konsorsium ExxonMobil-Shell digandeng oleh Pemerintah Singapura sebagai pengembang utama untuk rantai nilai CCS lintas batas. Proyek CCS ini dapat menangkap dan menyimpan secara permanen setidaknya 2,5 juta ton CO2 per tahun pada tahun 2030.

Malaysia

ExxonMobil dan PETRONAS telah menandatangani perjanjian untuk membahas langkah-langkah berikutnya untuk rantai nilai CCS, yang mencakup evaluasi ruang penyimpanan CO2 yang teridentifikasi, pengembangan kerangka kerja komersial yang tepat, serta penyusunan rencana advokasi yang mendukung pengembangan kebijakan untuk memungkinkan proyek CCS.

Indonesia

ExxonMobil dan PERTAMINA sedang memajukan proses evaluasi bersama untuk pusat CCS di Laut Jawa. Pusat CCS potensial dapat membantu meningkatkan dekarbonisasi di Indonesia dan wilayah Asia Pasifik. Peraturan presiden yang baru diterbitkan akan membantu mempercepat industri CCS di Indonesia dengan memungkinkan operator CCS menyisihkan sebagian dari kapasitas penyimpanannya untuk CO2 yang diimpor. Pemerintah Singapura dan Indonesia juga baru menandatangani surat pernyataan niat (LOI) untuk berkolaborasi dalam penangkapan dan penyimpanan karbon lintas batas.

Australia

ExxonMobil, sebagai anggota Gippsland Basin Joint Venture dengan Woodside, sedang meneliti potensi CCS di Gippsland Basin.

 

Kolaborasi adalah kunci

Apa yang membuat Asia Pasifik unik adalah kesempatan bagi wilayah ini untuk bekerja sama mengembangkan solusi pengurangan emisi lintas batas seperti CCS.

Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura memiliki rencana mitigasi CO2 yang agresif tetapi memiliki akses terbatas ke penyimpanan CO2 di wilayahnya. Sementara itu, negara-negara dengan industri minyak dan gas tradisional, seperti Indonesia dan Malaysia, memiliki peluang penyimpanan CO2 yang besar tetapi mungkin belum perlu menggunakannya secara maksimal saat ini.

Dinamika regional yang unik ini menawarkan peluang bagi negara-negara untuk berkolaborasi dalam mengurangi emisi CO2 di wilayah tersebut, yang mana negara-negara penghasil emisi dapat membayar untuk penggunaan penyimpanan.

Kami melihat potensi untuk pusat dan jaringan klaster CCS, tempat CO2  diambil dari berbagai lokasi industri, dikumpulkan, kemudian diangkut dan disimpan. Model pusat ini menjelaskan skala ekonomi untuk industri yang sulit didekarbonisasi, seperti baja, petrokimia, atau semen. Upaya kolektif di seluruh pusat dan jaringan dapat membantu mempercepat pengembangan proyek CCS baru.

Seiring dengan pengembangan jalur transisi energi di Asia Pasifik, CCS, bersama dengan hidrogen dan solusi rendah emisi lainnya, dapat memungkinkan kami untuk memainkan peran unik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri, sambil mengurangi emisi di sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi. Untuk mencapai kemajuan menuju masa depan nol karbon, kolaborasi antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat sangatlah penting.